Jumat, 16 Juni 2017

Apa Iya, Kamu Sudah Menerapkan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Bermedia Sosial?


Siapa sih yang tak akrab dengan dunia sosial saat ini? Dengan kemajuan teknologi yang begitu rupa, rasa-rasanya hampir tak ada orang yang tak berinteraksi dengan media sosial. Saat buka mata pada waktu pagi, alih-alih bergegas mandi malah meraih gadget. Pun, di malam hari sebelum tidur,  rasanya tak afdol bila tak mengintip smartphone kita.

Begitu riuhnya perkembangan dunia maya saat ini, menjadi candu tersendiri buat manusia modern. Bahkan, terkadang waktu yang dihabiskan di dunia maya, mengalahkan waktu yang dihabiskan di dunia nyata. Kemudahan mengakses internet, menjadi salah satu faktor mengapa dunia maya, khususnya media sosial menjadi begitu riuh. Juga menjadi tempat lintas informasi yang sangat padat.

Kini, setiap orang dengan beragam latar belakang yang aktif di media sosial bebas mengekspresikan ide, gagasan ataupun pendapatnya. Di satu sisi, kebebasan ini menjadi sesuatu yang positif. Namun,  tak bisa dipungkiri di sisi lain menimbulkan banyak efek negatif, seperti menyebarkan berita bohong alias hoax, maraknya aksi bully, atau begitu mudahnya orang melakukan aksi ujaran kebencian.






Tentu saja, bila dibiarkan efek-efek negatif akhirnya akan mengganggu kenyamanan kita dalam berinteraksi di media sosial. Bayangkan, jika ada orang yang membully atau melakukan tindakan ujaran kebencian pada seseorang. Tak ada lagi hidup yang harmonis dan kesantunan di antara kita. Bahkan, tindakan-tindakan seperti itu, malah akan memecah belah persatuan.

 Jumat, 16 Juni 2017 Kemkominfo mengundang para blogger,  untuk  #temublogger dalam acara Flash Blogging yang bertema Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Bermedia Sosial, yang dirangkai dengan acara buka Puasa.

Dengan tag line “Ayo Santun dan Produktif Bermedia sosial, Ini merupakan salah satu upaya untuk mensosialisasikan dan mengajak masyarakat bermedia sosial dengan lebih baik, lebih sopan dan tentu saja lebih santun.

Acara yang bertempat di Hotel Grand Clarion Makassar, Daisy Room di mulai tepat pukul 14.00. Setelah acara pembukaan, acara dilanjutkan dengan menghadirkan tiga narasumber :
  •     DR. Heri Santoso, Kepala Pusat Studi Pancasila UGM / dosen Fak. Filsafat
  •   - Prof. DR. A.M Galib, MA,  Sekertaris Umum MUI Sulawesi Selatan
  •          Handoko Data, Tim Komunikasi Presiden

Masing-masing narasumber diberi waktu 15 menit untuk memaparkan materi yang mereka bawakan. Pemateri pertama, Bapak Heri Santoso menjelaskan tentang bagaimana asal-usul #Pancasila yang digali dari kebudayaan Indonesia. Beliau dengan pawai menjelaskan bahwa Selain sebagai dasar negara, #Pancasila juga sebagai falsafah hidup, dalam bermasyarakat. #Pancasila harus menjadi aturan bersama, tak hanya di dunia nyata, juga di dunia maya.


Dari pemaparan yang bisa saya pahami, menurut beliau, saat ini bangsa Indonesia, menghadapi berbagai tantangan, yang harus dihadapi dan dipecahkan bersama, yaitu :


  • Merealisasikan cita-cita bersama
  • Merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur
  • Ada kerapuhan Internal bangsa ini. Korupsi, kolusi, reproduksi kekerasan, sex bebas, narkoba, dan lain-lalin
  •  Proxy war : Terorisme, HAM, disintegrasi bangsa, khilafah, komunisme, dan lain-lain

Setelah menyimak penjelasan beliau, saya menangkap bahwa sktualisasi #Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun duni maya tentu mutlak diperlukan. Itulah mengapa, sebagai anak bangsa kita tahun mengetahui apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam #Pancasila, agar bisa diterapkan dalam beragam aktivitas keseharian.

Tentu saja, bila kita mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam #Pancasila, kita akan lebih mudah mengaplikasikan nilai-nila tersebut dalam gagasan, dalam ide, informasi dan segala aspek dalam beraktivitas di dunia maya dan tentu saja di dunia maya. Dengan menerapkan nilai-nilai #Pancasila, tentu saja diharapkan tindakan-tindakan tak bertanggung jawab yang menjurus ke hal-hal negatif akan lebih mudah diminimalisir.

Salah satu contohnya, misalnya saat bermedia sosial kita bisa mengamalkan sila pertama dari #Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan membuat tulisan yang dilandasi adanya Tuhan yang mengawasi segala aktivitas kita, tentunya kita bisa lebih mengontrol segala tindakan kita. Nilai-nilai Ketuhanan akan membuat seseorang lebih menghargai kebebesan orang lain menjalankan syariat agamany, menghormati kebebesan beragam dan tidak memaksakan juga tidak berlaku diskriminasi pada orang lain.



Pembicara kedua. Prof. DR. A.M Galib, MA,  Sekertaris Umum MUI Sulawesi Selatan tampil berikutnya dan menjelaskan tentang Fatwa MUI dalam bermuamah di media sosial. Beliau menjelaskan fatwa ini mendukung Fatwa menjadi panduan dan pedoman dan memperkuat Undang-undang nomor 11.

Fatwa MUI tersebut dengan rinci menjelaskan bagaimana seharusnya seseorang dalam melakukan segala aktivitasnya di dunia maya.  Berikut isi fatwa yang dikeluarkan MUI:

1.   Dalam bermuamalah dengan sesama, baik di dalam kehidupan riil maupun media sosial, setiap muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu'asyarah bil ma'ruf), persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq) serta mengajak pada kebaikan (al amr bi al ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (al nahyu 'an al-munkar).

2.       Setiap muslim yang bermuamalah melalui medsos wajib meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan.

3.       Mempererat ukhuwwah (persaudaraan), baik ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan keIslaman), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan), maupun ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan).

4.       Memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antar umat beragama dengan pemerintah.

Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk melakukan:
1.       Melakukan ghibah, fitnah, naminah, dan penyebaran permusuhan.
2.       Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan.
3.       Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.
4.        Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar'i.
5.        Menyebabkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.
6.       Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya haram.
7.       Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, naminah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal2 lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.
8.       Mencari-cari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang laim atau kelompok hukumnya haram kecuali untuk kepentingan yang dibenarkam secara syar'i.
9.       Memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau memyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olaj berhasil dan sukses, dan tujuan memyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak hukumnya haram.
10.   Menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, pdahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya haram.

11.   Aktivitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, naminah, bullying, aib, gosip, dan hal2 lain sejenis sebagai profesi untik memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non ekonomi, hukumnya haram. Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.

Pedoman bermuamalah melalui media sosial adalah:
1.       Bermuamalah melalui media sosial harus dilakukan tanpa melanggar ketentuan agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan berlandaskan Al Quran, Hadits dan petunjuk ulama, setiap muslim harus melakukan tabayyun, kroscek atau carilah kejelesan terhadap berita-berita media.  Tidak menerima begitu saja info yang diterima

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. Al Hujurat: 6).




Pembicara terakhir adalah Bapak Handoko dari Tim Komunikasi Presiden yang memaparkan berbagai keberhasilan presiden Jokowi

2 komentar:

  1. Mencerahkan tulisannya ttg etika bermedia sosial

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum sempat saya edit ulang ini kak

      Hapus