Selasa, 13 Desember 2016

Dingin dan Lapar Malam Ini, Mengantarkanku ke Kota Madaya



Hari ini, seharian Makassar diguyur hujan. Sebenarnya, tak ada yang luar biasa, sebab ini Desember, memang sudah musim penghujan.  Jadi, wajar saja jika kotaku menjadi basah dan dingin.

Jujur, aku suka dengan udara seperti ini. Lembab, basah dan dingin. Jika biasanya Makassar kota yang panas, gerah dan lengket, maka hujan ini begini membuatku sangat senang.

Hujan membuatku merasa lebih tenang dan teduh. Bahkan, membuatku lebih kreatif—walau ini sebenarnya alibi. Sebab, mana ada kreatifitas berhubungan dengan cuaca.

Baik, aku lanjut bercerita soal hujan.  Di rumahku, hujan-hujan begini identik dengan ikan kering. Begitupun hari ini, ibuku memasak ikan teri kering dengan sambal. Wuih, asli sedap. Ga pakai lama, makanan di meja makan tandas.

Dan, ternyata semakin malam semakin dingin, hujannya awet.  Aku sempat melirik smartphoneku dan mengecek suhunya 25 derajat. Wow, baru 25 derajat tapi sudah sedingin ini !  Seruku dalam hati.  Tapi, dingin memang identik dengan lapar.


Namun, aku lupa makanan di meja makan sudah tandas saat makan malam tadi. Mie instant yang biasanya ada di kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kelaparan), juga sudah habis. Mau keluar ke warung, rasanya malas. Hujan, malam dan dingin itu kombinasi yang melemahkan semangat.

Aku meraih botol air mineral di samping tempat tidur, mengenggak isinya; berharap minuman itu bisa sedikit mengurangi rasa laparku. Setelah selesai minum dan meletakkan kembali botol mineral di tempat semula. Pandanganku tertambat ke sebuah majalah di atas meja yang penuh dengan buku.

Entah kenapa, tangahku bergerak meraih majalah itu begitu saja. Aku lalu membukanya tepat di halaman 28. “Tangis Untuk Madaya” sebuah judul yang membuatku penasaran. Sebab, baru kali ini, aku mendengar kata Madaya itu.

Karena penasaran, aku meneruskan membaca isi beritanya.  Ternyata, Madaya merupakan sebuah kota di bagian barat laut Suriah, yang sedang mengalami penderitaan yang sungguh berat.

Penduduk Madaya, saat ini menderita kelaparan hebat, karena blokade rezim  Syiah Nushairiyah di bawah pimpinan Bashar Ashad. Sudah enam lebih, suplai makanan dan obat-obatan tak bisa masuk ke Madaya.

Penduduknya termasuk anak-anak tentu saja, terpaksa makan serangga dan dedaunan untuk sekedar bertahan hidup. Banyak ibu mengandung harus kehilangan janinnya karena keguguran. Sebab, bumil tersebut harus menahan lapar yang hebat selama berbulan-bulan. Warga yang pingsan tak terhitung, pun yang meninggal dunia.

Sampai di sini, aku terdiam lama, dan sebelum melanjutkan membaca berita tentang Madaya, aku menarik nafas. Penderitaan penduduk Madaya semakin bertambah, karena konco-konco Bashar menjaga ketat kota itu.

Madaya di kelilingi ranjau, untuk menghalangi warga yang ingin keluar Madaya mencari makanan.  Bukan hanya ranjau, para penembak jitu akan dengan sigap menembak warga yang ingin berusaha mencari makanan.

Aku merinding membaca ini. Buru-buru kuraih smartphoneku, dan meng-googling Madaya Suriah.  

Hasilnya, sejumlah  website  berita, yaitu : CCN, BBC, international Sindonews, news detik, dakwatunah, global liputan6, Tempo dan Hidayatullah menjadikan berita mengenai kelaparan di Madaya  menjadi headline.

Meski, framing media-media tersebut, cenderung memberitakan bahwa kelaparan itu disebabkan oleh pemberontakan, namun fakta tentang kelaparan itu benar adanya.  

Lucunya, ada satu website yang beritanya melawan arus. Website itu menganggap foto-foto kelaparan di Madaya, yang beredar di internet adalah hoax. Tak perlu aku  tuliskan di sini, nama websitenya, karena anda bisa kok dengan mudah menemukan sebuah website yang 'aneh'  tersebut.

Yah, membaca berita demi berita tentang kelaparan yang terjadi di Madaya, akan membuat bulu roma merinding. Apa yang terjadi di Madaya sungguh sangat mengerikan.

Sebuah lembaga pendidikan dari Mesir, bernama Al-Azhar As-Syarif, bahkan menyebutkan, apa yang terjadi di Madaya  metode pembunuhan yang sangat keji, yang sangat bertentangan dengan seluruh ajaran agama, rasa kemanusiaan, peraturan-peraturan dan kesepakatan Negara.

Bagaimana mungkin, ada manusia yang membuat manusia lainnya terbunuh perlahan dengan cara membuatnya kelaparan? Apakah mereka benar manusia ataukan setan yang berwujud manusia? Di mana hati nurani mereka? Bagaimana mungkin seorang Bashara Asad seorang presiden, bisa membunuh rakyatnya dengan cara sedemikian biadab?

Korban yang jatuh akibat tak makan berhari-hari sudah lusinan. Bahkan, negara Prancis pun, ternyata menentang pengepungan itu. Roman Nadal, jurubicara Kementrian Luar Negeri Prancis menyebut pengepungan itu, “tak dapat dipertahankan, dan tidak dapat diterima.”

Aku kemudian mencoba, mencari tahu lebih lanjut keadaan kota Madaya. Aku ingin tahu, berapa suhu di kota itu. Sebab, di kotaku saja yang suhunya baru 25 derajat, sudah membuatku kelaparan. 

Subhanallah, aku terperanjat! Kutemukan data kondisi kota Madaya di Google :  cuaca 8 derajat celcius, saat ini.

Dengan kondisi sedingin itu, aku sama sekali tak berani membayangkan, bagaimana laparnya warga Madaya, yang sudah tak makan berhari-hari. Aku terdiam, ya aku terdiam lama.

Tadi, aku mengeluh lapar karena dingin, padahal seharian aku cukup makan. Lalu, bagaimana dengan warga kota Madaya?

Sungguh, aku sangat beruntung. Meski malam ini merasa lapar, tapi aku tak kelaparan. Aku tak mengalami apa yang menimpa warga kota Madaya. Harusnya, aku banyak berucap syukur. Aku bisa makan dengan teratur dan kenyang. 

Ini bukan kebetulan tentu saja. Laparku ini membuat aku jadi tahu kota Madaya. Ini tentu cara Allah memberitahuku agar bersyukur.  Bukan buru-buru mengeluh, hanya karena merasa sedikit lapar.  Ya, Allah ampuni hambamu ini yang kurang bersyukur. 

Dan, untuk warga kota Madaya, aku berdo’a seperti do’a yang pernah di lantunkan Syaikh As-Syuraim sambil terisak dalam dalam do’a di akhir khutbah Jumatnya,

“Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami  yang diblokade di Madhaya Syam. Ya, Allah sesungguhnya mereka sedang dalam keadaan lapar, berikanlah mereka makanan. Berikanlah rahmatmu kepada orang-orang miskin mereka wahai Dzat yang Merahmati orang-orang miskin..”

Kuputuskan menyalakan laptop, dan menuliskan tentang lapar, yang mengantarkanku ke kota Madaya. Kota yang telah lama menderita karena kelaparan. Agar aku bisa mengingatkan diriku untuk belajar bersabar dan bersyukur.  Terima kasih Ya,  Rabb..

Aku hanya menampilkan screen shoot keadaan cuaca Madaya. Sengaja, tak menampilkan foto-foto penderitaan warga Madaya yang kelaparan, meski ada banyak di internet. Aku tak sanggup melihat kondisi mereka...[]














Tidak ada komentar:

Posting Komentar