Minggu, 06 November 2016

Ramuan, Racikan Ibu


Beliau, masuk ke ruang tengah,membawa dua botol besar bekas coca cola di tangannya. Botol-botol itu, telah terisi penuh cairan yang berwarna kuning. Cairan itu, adalah cairan perasan kunyit yang dicambur sedikit asam dan gula merah.

Tiba-tiba saja, mata saya menghangat, saya kemudian buru-buru ke kamar mandi untuk menahan air mata haru yang sudah hampir tumpah. Sungguh, saya terharu.

Ibu, wanita yang kupanggil ibu itu, rupanya sengaja meracikkan ramuan kunyit itu, untukku. Sudah hampir tiga tahun ini, saya menderita sakit perut yang disebut dalam istilah kedokteran Irritable Bowel Syndrome (IBS)



 "Irritable bowel syndrome (IBS) merupakan salah satu jenis gangguan pada sistem pencernaan. Penyakit kronis ini menyerang usus besar dan bisa jadi akan hilang timbul selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup"




Setahun belakangan ini, penyakit itu semakin menyiksaku. Merampas waktu produktifku. Apalagi tiga bulan belakangan ini, aku hampir-hampir tak bisa menulis, karena kelelahan menahan sakit perut, yang disebut dokter belum ada obatnya.

Kadang, di malam hari saat waktunya tidur, perut saya di bagian sebelah kanan bawah tiba-tiba melilit. Rasa sakit yang dahsyat, hampir membuatku tak bisa apa-apa. Waktu malam--saatnya beristirahat, saya justru menghabiskan untuk menahan sakit.


Akibatnya, saya akan terserang rasa kantuk di waktu siang, karena tak cukup tidur di malam hari. Masih untung jika saat siang itu, penyakitku itu tak kambuh. Namun, sayangnya saat di siang hari penyakit itu, lagi-lagi membuatku tak berdaya.

Bukan, sekali dua kali saya ke dokter, tapi hasilnya masih nihil. Hingga, saya coba beralih mencoba obatan-obatan herbal. Beberapa kali mencoba, juga belum memberikan hasil memuaskan. 

Hingga, suatu hari saya dan ibu terlibat obrolan ringan, Saat itu, saya sempat mengeluh soal penyakitku yang belum kunjung sembuh, juga obralan mengenai artikel yang membahas tentang tanaman  kunyit. Saya lalu menyampakain pada ibu, manfaat kunyit untuk organ dalam.

Rupanya, karena itulah esoknya saat ke pasar ibu membeli kunyit, asam dan gula merah. Sesampainya di rumah, beliau langsung sibuk di dapur mengolah racikan obat itu. Beliau sibuk sendiri, bahkan tak memanggilku untuk membantunya. Padahal, meracik kunyit itu bukanlah pekerjaan yang santai.

Setelah racikannya selesai, barulah ibu menemuiku membawa dua botoh besar, racikan cairan kunyit dan langsung menyuruhku meminumnya secangkir hari itu. 

Alhamdulillah, saat itu sakit perut saya yang sedang kambuh, langsung berkurang nyerinya. Dan, ini hari kedua tanpa sakit perut. 

Begitulah seorang ibu. Perhatiannya sungguh luar biasa. Sebesar ini, ibu masih saja rela-rela menyiapkan obat untukku. Mau berpayah-berpayah membuat racikan yang cukup ribet menurutku. 

Bagaimana bisa saya tak terharu? Bagaimana bisa saya tak bahagia? Bagaimana bisa saya tak bersyukur? Akh, ibu memang begitu, kasih sayangnya sungguh keterlaluan. Meski kita anaknya, seringkali malah menggerutu tentangnya.

Sungguh, saya beruntung, masih bisa merasakan perhatian seorang wanita bernama Ibu. Saya tidak bisa membayangkan, jika di suatu waktu, rindu menyiksaku karena tak  lagi mendapati sosoknya.

Semoga Allah memberiku waktu  dan memampukanku untuk berbakti pada beliau, Dan, semoga lewat ramuan yang diracik tanganya, Allah menyembuhkan penyakitku.[]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar