Selasa, 29 November 2016

Ternyata, Susu Tak Cocok Untuk Perut Saya

Jam dua dini hari, saya tersentak bangun. Tiba-tiba perut saya melilit tak ketulungan sakitnya. Saya tersadar dari tidur nyenyak dan buru-buru bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. 

Oh no...! Di kamar mandi ternyata saya hanya jongkok melongo di atas closet. Perut saya masih sakit dan saya tak buang air besar. 

Saya langsung cemas dan kuatir, kemewahan yang saya rasakan-- tak sakit perut selama tiga minggu, akan terenggut.
Oh please jangan kambuh lagi! Aku memohon dalam hati.



Namun, itu bukan serangan yang terakhir, keesokan harinya, terkena serangan lagi, meski tidak sesakit sebelum saya minum ramuan kunyit, tapi ini bikin saya ketakutan. Untunglah, serangannya hanya sekali sehari. 

"Mungkin karena beberapa hari ini kamu minum susu..." ucap Ibu saya tiba-tiba, saat melihat saya memegangi perut saya yang melilit. 

Yah, betul juga. Sudah tiga hari saya minum susu yang diberikan adik. Susu yang dibawa dari negeri tetangga. Dan, hari kedua saya minum susu itulah, pada malam harinya saya terserang sakit perut lagi. IBS ku kambuh, meski tak se-ekstrim biasanya.

Saya akhirnya menghentikan minum susu coklat itu setiap pagi. Saya kembali minum teh seperti biasa. Alhamdulillah, ternyata hari itu saya tak mendapat serangan sakit perut lagi. 

Ya, sebelumnya saya memang tak terlalu memperhatikan soal makanan. Karena, sebelum meminum ramuan kunyit, sakit perut  lima hingga tujuh kali sehari membuat saya tak sempat memperhatikan asupan makanan saya. Saya lebih fokus bagaimana menahan sakit perut yang luar biasa lima hingga tujuh kali sehari.

Saya kemudian googling pengaruh susu untuk penderita IBS. Dan, saya menemukan penjelasan bahwa susu salah satu jenis makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita IBS. Sebab, laktosa dalam susu merupakan jenis disakarida, yang berarti sulit diserap oleh tubuh. Hasilnya, perut kembung, gas, sembelit dan diare.

Penderita IBS juga disarankan memilih makanan atau minuman lain yang bebas susu. Bila ingin mengkonsumsi keju, penderita IBS disarankan memilih keju cheddar yang kandungan laktosanya lebih rendah. 

Yah, sayapun baru teringat, dulu saya sering sakit perut saat mengkonsumsi yogurt. Namun, kala itu saya tidak memperhatikan bahwa penyebabnya adalah karena yogurt itu yang mengandung susu.

Selain susu, beberapa jenis makanan yang tinggi FODMAP (oligosakarida difermentasi, disakarida, monosakarida, dan poliol) harus saya hindari, jika tidak ingin tiba-tiba terbangun tengah malam karena serangan sakit perut.

Bagi sebagian orang makanan FODMAP sangat baik, namun tidak untuk penderita IBS. Selain susu, ada 3 jenis makanan lain yang sebaiknya saya hindari, yaitu :

Kacang dan lentil

Kacang-kacangan mengandung oligosakarida. Ketika tubuh penderita IBS mencoba mencernanya, proses ini akan menghasilkan gas yang kemungkinan bisa memicu gejala IBS


Gula alkohol

Lupakan gula buatan yang namanya diakhiri dengan “ol” seperti poliol, sorbitol, xylitol, manitol, dan banyak lagi. Ini tak cocok dikonsumsi orang yang hidup dengan IBS


Buah dengan biji di dalamnya

Saya cukup terkejut dengan makanan jenis ketiga ini. Jadi, apel, mangga, ceri, plum, dan buah persik adalah buah yang tinggi fruktosa dan fruktosa adalah monosakarida. Sehingga, saya tak cocok mengkonsumsinya. Hiks....

Penderita IBS juga disarankan menghindari makanan atau minuman lain yang tinggi fruktosa seperti sirup jagung, madu, dan agave

Saya sungguh terkejut. Saya tak pernah menyangka perut saya sensitif dengan beberapa jenis makanan. Selama ini, saya tipe omnivora alias pemakan segala. Saya, tak tahu kalau saya memiliki tipe perut yang manja. []





Tidak ada komentar:

Posting Komentar