Rabu, 12 Oktober 2016

Mencari-Cari Alasan Untuk Mengganti Istri


Di sebuah ruang tunggu, saya akhirnya ikut menonton sinteron Anandhi untuk membunuh bosan. Namun, akibatnya saya jadi sewot dan baper,  gegara di episode yang saya nonton saat itu, berkisah tentang si tokoh bernama Jagdish, yang dengan enteng mengatakan tak lagi mencintai istrinya yang bernama Anandhi.

Dengan alasan tak lagi mencintai istrinya itulah, ia kemudian menikah lagi dengan perempuan lain yang disebutnya dicintainya. Parahnya, ketika si perempuan tahu bahwa lelaki yang dipacarinya telah beristri, ia tak mundur. Justu, ia malah nekat saja menikahi lelaki itu, karena si lelaki berkata ia tak lagi mencintai istrinya. 

Sebuah pertanyaan seketika timbul di benak saya, apakah dengan alasan tak lagi mencintai sang istri, seorang suami bisa dengan entengnya menikahi perempuan lain? Semudah itu? Sesimple itu? Apakah ia tak memikirkan perasaan istrinya yang telah mengabdi padanya selama bertahun-tahun? 

Apakah cinta yang dianggapnya telah luntur, semata-mata alasan untuk meninggalkan istri dan mengantinya dengan perempuan yang diselingkuhinya, padahan belum tentu lebih baik dari istrinya? Bukankah ada banyak cara yang harus dilakukan sepasang suami istri untuk menumbuhkan cinta, sepanjang usia pernikahan mereka? 

Akhirnya, saya mencoba menelusuri cerita di episode-episode sebelumnya di youtube karena ingin mencari tahu awal mula hubungan gelap sang suami. Ternyata, hubungan si suami diawali dengan kedekatannya dengan seorang perempuan--teman kuliah sang suami. Mulanya, berstatus sahabat, lalu hubungan mereka semakin akrab dan makin intim hingga berubah menjadi sepasang kekasih. Segala carapun dihalalkan agar hubungan terlarang mereka bisa langgeng. 

Yah, begitulah bila seorang lelaki dan perempuan non mahram bergaul dengan bebas tanpa batas. Setan menjadi sangat senang dan gembira menghias kemaksiatan mereka menjadi indah, sehingga mereka berpikir itulah cinta. 

Dan, untuk seorang suami yang merupakan imam dalam rumah tangga, harusnya bersikap baik pada keluarganya dan berusaha keras mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Cinta sudah semestinya diusahakan, bukan malah 'menyingkirkan' sang istri saat bertemu perempuan lain, yang dianggapnya lebih baik dari sang istri.

Saya jadi ingat sebuah hadits,  

Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” 

[HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].





Tidak ada komentar:

Posting Komentar