Minggu, 17 Februari 2013

Seragam dan Jam Kantor Eight To Five : Itulah Kerja

"Aku suka menulis, tetapi aku butuh makan..."


Kata-kata itu diucapkan oleh Emma Morley, tokoh yang diperankan Anne Hathaway dalam film One Day. Emma, seorang wanita yang sedang berusaha merintis jalannya sebagai penulis, sekaligus memperjuangkan cinta sejatinya.

Kata-kata Emma Morley, tak urung membuat saya tersenyum. Yah, meski film itu menceritakan tentang rasa cinta Emma pada seorang temannya bernama Dexter, namun berbagai usaha yang dilakukannya, agar bisa tetap bertahan dalam upayanya menjadi penulis, adalah sedikit gambaran. Betapa, memilih total berprofesi penulis, merupakan upaya yang mesti dilakukan terus menerus.

Penulis, profesi yang berbeda dengan profesi kebanyakan. Mungkin, bisa dianggap mengabaikan akal waras. Tak ada kepastian, berapa penghasilan setiap bulannya. Sementara, untuk terus bisa berpikir--menelurkan karya, seorang penulis tentu butuh makan. Harus bisa membuat tulisan, pada saat bersamaan harus menyelesaikan tagihan yang mendesak misalnya.

Lalu, bagaimana dengan penulis-penulis yang sudah tenar dan menikmati hasil berlimpah dari karyanya? Well, kita tidak pernah tahu, apa yang telah mereka lalui untuk mencapai keberhasilan. Berapa banyak tulisan yang mereka buat, sebelum akhirnya mereka bisa membuat karya yang fenomenal? Atau, berapa banyak pengorbanan mereka lakukan untuk memperoleh karya terbaik?

Mungkin, hampir tak ada orang tua yang pernah berharap, anaknya akan menjadi seorang penulis. Kebanyakan orang tua, tentu saja menginginkan anak-anak mereka, memilih profesi yang bisa memberikan rasa tentram dan aman. Gaji setiap bulan, hidup yang pasti.
Dan, hampir sama kebanyakan orang tua lainnya, orang tua saya ; khususnya ibu, tidak akan pernah mengerti,  mengapa saya yang seorang sarjana teknik sipil, memilih berhenti sebagai pegawai kantoran, kemudian beralih menjadi orang yang tak jelas kerjaannya.
Meski, kenyataannya dengan profesi 'tidak jelas' ini, saya bisa menghidupi diri sendiri, saya bisa hidup mandiri,  tetapi tetap dianggap tidak bekerja. Seragam dan jam kantor eight to five :  itulah kerja.

Barangkali, profesi ini memang cenderung mengabaikan kelaziman defenisi kerja. Tetapi memilih profesi sesuai kata hati, merupakan pemenuhan hak-hak asasi bagi diri sendiri. Hidup adalah pilihan. Pertanyaannya, apakah kita berani memilih sesuatu yang kita cintai dengan segala konsekuensinya? Hidup cuma sekali, paling tidak, membahagiakan diri kita dengan pilihan profesi tanpa dikte, merupakan sebuah kemerdekaan pribadi. Berani beda; menjadi diri sendiri, diantara banyak orang--yang terjebak menjadi 'zombie'. Yang  menjalani pilihan hidup karena 'keterpaksaan', karena gengsi atau karena alasan-alasan lainnya, namun bukan karena cinta.


"Seringkali tersenyum malu, saat dimintai tanda tangan seperti ini"
Ini, acara launching : Vice Versa; bukan hikayat Yusuf&Zulaikha
di Kampus UNM, Gunung Sari-- Makassar. 6 Oktober 2012




Beberapa tahun belakangan ini, khususnya setelah mengundurkan diri sebagai manager marketing di sebuah perusahaan swasta, saya mulai fokus membuat tulisan.Meski tertatih, keteteran sana-sini. Menulis tanpa putus asa, sambil mencari duit agar bisa menghidupi diri sendiri. Hingga, akhirnya saya menyebut profesi saya writerpreneur.


Yah, writerpreneur merupakan gabungan kata writer dan enterpreneur ; menulis dan berwirausaha.
Perjalanan menapaki profesi ini dimulai dari tahun 2007. Perjalanan yang memberikan saya banyak pelajaran berharga. Untuk menjadi penulis tangguh, kita harus kreatif. Bukan hanya kreatif menghasilkan ide dalam menulis, tetapi kreatif mensiasati hidup ini. Agar, tetap bisa menghasilkan berbagai karya. Ibarat mobil yang butuh bensin, untuk laju menuju tujuan.

Mulai pertengahan 2012, saya mulai fokus menjadi penulis 'sebenarnya'. Hati saya mencintai dunia ini dan percaya bahwa inilah profesi pilihan, yang membuat saya serasa tidak bekerja. Ditandai dengan mulai mengirimkan karya pada lomba-lomba kepenulisan, bergabung dengan komunitas menulis--yang aktif melatih anggotanya untuk berkarya, bergabung dengan agen--yang dengan serius menawarkan karya-karya kita kepada penerbit berskala nasional.

Mempercayakan karya tulis pada agen, merupakan salah satu cara yang cukup jitu untuk menembus penerbitan nasional. Bagi penulis yang berdomisi di daerah seperti saya,  ini salah satu upaya yang saya tempuh, agar karya saya bisa terbit dengan berlabel penerbitan nasional.
Dan, di tengah ronrongan untuk melamar kerjaan di sana dan di sini, saya tetap berusaha fokus berkarya yang terbaik.
Penulis, memang bukan profesi biasa!


Makassar,  18 Februari 2013. 6.43 am
Sedang merampungkan buku keenam : Cara Gampang Memulai Usaha Desain Grafis



2 komentar: