Kamis, 13 Desember 2012

Saya Muslim, Maka Siapa Yang Butuh Feminisme?


Seorang teman saya berkebangsaan Australia, yang sedang memperdalam ilmu Rekayasa Genetika, secara berseloroh pernah mengatakan, “Tuhan pasti sedang dalam kondisi terbaiknya saat menciptakan wanita.”  Teman tadi menambahkan, secara genetik, perempuan yang diciptakan dengan karunia kromosom XX, dianggap para ahli di bidang genetika, sebagai komposisi gen yang terbaik. Sedangkan kaum pria yang dikarunia kromosom XY, dianggap membawa “kutukan” dalam gen mereka, karena adanya kromosom Y tersebut.

Walaupun pendapat ini dikatakan secara bercanda, tapi paling tidak ini sebuah pengakuan menarik dan tentunya juga bisa jadi sebuah sanjungan. Wanita, perpaduan sempurna dari kelembutan dan keindahan yang menjelma menjadi sebuah kekuatan dasyat. Sulit mencari tandingannya. Sebagai wanita kita dilahirkan dengan memiliki berbagai macam keuntungan dan kesenangan.

* * *

Aktivitas itikaf Para Wanita
di Masjid Raya Makassar pada bulan Ramadhan
13 Agustus 2012




Feminisme dan kesetaraan gender, menjadi bahan pembicaraan yang kedengaran keren di berbagai debat 'kusir' beberapa waktu belakangan ini.  Dikatakan, wanita makhluk lemah yang butuh perlindungan, persamaan hak dan kesempatan untuk berkarya, apa benar seperti itu? Rasanya, kita butuh memikirkan ulang persepsi tentang wanita.

Dalam Islam sudah jelas kedudukan seorang wanita, Islam lah satu-satunya agama yang meluruskan anggapan bahwa Adam tergoda memakan khuldi bukan karena rayuan Hawa. Sekian lama, otak kita direcoki dengan ketidakbenaran bahwa wanita itu penggoda yang membuat Adam 'terdepak' dari surga. Mungkin, karena konsep wanita yang simpang siur di 'luaran' sana yang tidak jelas, sehingga lahirlah berbagai konsep yang menuntut bagaimana seharusnya wanita diperlakukan.

Dan dalam tulisan saya ini, saya sama sekali tidak tertarik untuk mengomentari tentang falsafah feminisme, yang menuntut wanita memiliki persamaan hak dengan pria. Kenapa mesti ada persamaan hak lagi? Wanita dalam Islam  sudah sangat spesial, se-spesial  penciptaan seorang Hawa--wanita pertama diciptakan. Melengkapi hidup Adam menjadi lebih bermakna, yang saat itu sangat membutuhkan pendamping.

Wanita diciptakan Tuhan dengan hal-hal yang istimewa. Dalam agama saya, wanita memiliki peringkat yang tiga kali lebih mulai di bandingkan pria. Seorang sahabat bertanya pada Rasulullah, "siapakah yang paling utama untuk dihormati?" Rasulullah menjawab, Ibu sampai tiga kali baru kemudian Ayah. Begitu utamanya kedudukan seorang Ibu, sehingga seorang Ayah hanya menduduki peringkat keempat. Lalu mengapa kedudukan wanita harus turun hanya karena kesetaraan gender?

Tugas mulia membawa kehidupan baru di dunia ini, Tuhan percayakan hanya pada wanita. Tugas menjadi Ibu, tugas yang mempertaruhkan nyawa, dalam Islam ini adalah salah satu jihad. Dan, laki-laki boleh  iri sebab,  tugas ini tidak didesain untuk Anda. Maka,  para lelaki memuaskan rasa penasarannya dalam film Junior. :).

Jika saja, saat ini jumlah wanita jauh lebih banyak dari pria, itu mungkin berkaitan dengan sebuah penelitian.  Penelitian tersebut  menyebutkan : wanita memiliki daya tahan dan adaptasi terhadap seleksi lingkungan yang jauh lebih baik, ketimbang pria. Wanita, tahan lapar lebih lama dibandingkan pria. Jadi,jika kemungkinan terburuk terjadi, misalnya bencana kelaparan, siap-siaplah kaum pria tereliminasi lebih banyak.
Wanita itu lemah? Sudah pasti itu adalah pendapat diskriminatif.

Jadi, konsep feminisme (maaf), konsep yang ketinggalan zaman menurut saya. Dalam manual book manusia : Al-Quran, ada surah An-Nisa yang artinya wanita. Betapa, wanita dalam Islam dipandang dengan sangat santun, sangat mulia kedudukannya. Lalu, mengapa ngotot wanita perlu menjadi setara?
Kehebatan, keunikan, keindahan dan kemandirian seorang wanita, bukanlah untuk menjadikannya anti laki-laki. Sudah menjadi kodrat, wanita dan pria hadir untuk saling melengkapi dan menciptakan keharmonisan.

Yang terhebat kata teman saya, wanita yang rusak akhlaknya bisa membuat suami yang alim sekalipun masuk neraka dan seorang wanita yang terjaga akhlaknya bisa membuat seorang lelaki bejat sekalipun bisa mencium baunya surga. Maka bagi saya, konsep Islam tak diragukan lagi, pengabdian pada suami bukan keterkungkungan tetapi ladang pahala. Hormat dan menjaga kehormatan suami, bukan karena kuno tetapi sebuah kemuliaan--ladang pahala.

Menutup tulisan ini, saya mengutip sms seorang yang dikirimkan pada saya beberapa waktu lalu.
"Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa dibulan ramadhan, memelihara kehormatannya serta serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dikehendakinya."


Makassar, 21.03. 2012
at Rinra Desain Office, 17.27

2 komentar:

  1. suka sekali dengan tulisan ini..
    saya juga ngeri lihat wanita2 yang sok gembar gembor soal emansipasi dan feminisme.. tapi coba mereka suruh benerin atap genteng.. paling juga gak mau.. ujung2nya minta tolong ma laki juga.. kalo feminis n beneran emansipasi.. naik genteng sendiri aja kali.. :)

    BalasHapus
  2. Feminisme banyak sekali pengikutnya sekarang. Muslimah yang getol memperjuangkan feminisme mestinya mengkaji ulang pemikirannya. Persoalan genteng? hehehe.... boleh juga. Thank u sudah mampir di rumah saya mbak Marita :)

    BalasHapus